Lebih dari dua puluh tahun berlalu sejak Munir meninggal, upaya untuk mencari keadilan tetap terus berlangsung. Orang-orang di sekitarnya menyatakan bahwa kepergian Munir tidak membawa rasa benci, melainkan cinta tulus dalam menyelesaikan satu tujuan: pertanggungjawaban pemerintah.
Hadiah terakhir yang diberikan Munir kepada Suciwati dalam perayaan ulang tahun pernikahan mereka adalah tas dan ikat pinggang.
Munir menyerahkan kedua barang tersebut beberapa saat sebelum ia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya.
Selama hidupnya, Munir hanya merayakan dua momen hari ulang tahun, kata Suciwati.
Pertama, hari ulang tahun pernikahan mereka. Kedua, hari ulang tahun anak-anaknya. Baik hari ulang tahun dirinya sendiri maupun Suciwati tidak termasuk dalam daftar perayaan.
"Yang ia ingat adalah hari pernikahan kita," kata Suciwati sambil tersenyum.
Saku dan kerudung itu masih disimpan oleh Suciwati hingga saat ini, demikian pula kenangan-kenangan lain yang tak akan pernah terlupakan olehnya selamanya.
Di bandara, sebelum pesawatnya siap lepas landas, Munir memeluk Suciwati beserta dua anaknya. Pelukan itu terasa hangat dan erat. Satu kalimat kemudian terucap dari mulut Munir.
"Ia mengatakan bahwa ia telah menemukan surga," kenang Suciwati.
Mendengar ucapan Munir, Suciwati hanya mampu merasa bahagia. Di dalam hatinya, ia terus-menerus mengucapkan rasa terima kasih atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya: keluarga kecil dan kasih sayang dari Munir.
Taman yang dahulunya tumbuh di dalam jiwa Suciwati dengan bunga-bunga yang mekar di atasnya tiba-tiba berubah menjadi awan gelap, di mana bunga-bunga itu layu dan mati. Pada akhirnya: mimpi buruk yang tidak pernah ia percayai.
Saat pesawat yang membawa Munir menuju Belanda melewati langit Rumania, racun arsenik telah menyebar ke dalam tubuhnya dan merusak jaringan tubuhnya.
Munir meninggal dunia.
Sejak saat itu, Suciwati berkomitmen menyelesaikan satu hal.
"Orang yang membunuh suami saya perlu ditemukan," katanya.
Dibuktikan dan dibawa ke pengadilan.
Harapan hidup tenang di daerah pedesaan
Bagaimana perasaan tinggal dan menikah dengan seorang aktivis yang terkenal berani melawan ketidakadilan?
Suciwati berhenti sejenak, seolah mencoba membuka tirai yang menyembunyikan kenangan demi kenangan bersama suaminya, Munir Said Thalib.
Bagi Suciwati, ia mampu menyesuaikan diri dengan berbagai aspek terkait aktivisme yang dijalani Munir. Meskipun demikian, Suciwati menyebut satu hal yang tidak boleh dikompromikan.
Ruang keluarga. Ruang yang diisi oleh Suciwati beserta dua anaknya.
Sibuk apa pun Munir dalam mengadvokasi kasus-kasus dugaan pelanggaran hak asasi manusia, Suciwati tetap tidak ingin urusan keluarga menjadi kacau. Waktu yang harus dialokasikan untuk kedua anaknya, menurut Suciwati, harus selalu tersedia.
Komitmen ini telah disetujui ketika pernikahan antara keduanya terjalin. Munir sangat memahami aturan tersebut.
"Karena [waktu] liburan tiba-tiba muncul keadaan yang memaksa dia untuk berangkat, dia langsung pergi. Jadi, meskipun tengah malam, ketika dia harus pergi, dia tetap pergi," kata Suciwati.
Pada situasi tersebut, Suciwati meminta Munir untuk mengambil "cuti keluarga".
Tujuan kemanusiaan yang terkandung dalam setiap langkah kerja Munir, Suciwati mengakui, adalah sesuatu yang sangat mendesak. Suciwati dapat memahami hal ini karena dia juga memiliki hubungan dekat dengan dunia aktivis.
Namun, komitmen di luar pekerjaan tidak boleh diabaikan.
"Maka, saya rasa untuk kemanusiaan, apa pun yang bisa kita lakukan, tetapi kita tidak boleh mengabaikan komitmen yang telah dibangun. Kebersamaan itulah yang juga perlu dipertahankan," katanya.
Hidup bersama Munir membuat Suciwati menyadari bahwa "kebersamaan" bukan sekadar kata; itu adalah sebuah tindakan yang bernilai. Terlebih lagi, perjalanan aktivisme Munir sering kali terlibat dalam isu-isu yang memiliki konsekuensi yang besar.
Bermacam-macam ancaman dan tekanan datang bergantian, seperti suara peluru yang menggelegar di sudut-sudut ruangan yang Suciwati bayangkan sunyi dan tenang.
Pada suatu kesempatan, Suciwati mengakui pernah menerima panggilan dari seseorang yang tidak dikenalnya yang meminta Munir berhenti menjadi aktivis. Ancaman tersebut juga menyentuh keluarga besar yang sebagian besar menyampaikan pesan serupa.
Tekanan semacam ini, tak dapat dipungkiri, memicu sejumlah pemikiran: seberapa jauh aktivisme sosial atau politik mampu memberikan ruang yang aman bagi mereka yang terlibat di dalamnya?
Hati kecil Suciwati tidak menutup kemungkinan mengenai kehidupan di luar dunia aktivisme. Keinginan untuk hidup "sederhana" seperti masyarakat umumnya pernah muncul dalam pikirannya.
Meskipun demikian, dalam kenyataan yang lain, Suciwati memahami dengan jelas bahwa dia tidak dapat memaksa Munir untuk berhenti.
"Pada suatu titik [Munir] tidak bisa diperintahkan untuk diam. Tidak mungkin. Dalam arti, hal itu sudah menjadi bagian dari sifatnya," kata Suciwati.
Diskusi mengenai kesempatan untuk "pensiun" sebagai aktivis pernah disampaikan oleh Suciwati dan Munir. Jika tidak lagi menjadi aktivis HAM, Munir ingin tinggal di desa, demikian menurut Suciwati.
"Ia ingin menjadi petani dan memiliki lebih banyak waktu untuk menulis," tambah Suciwati.
Suciwati menambahkan bahwa jalan menuju "kehidupan tenang" seperti yang diinginkan Munir akan terwujud selama syarat-syaratnya terpenuhi.
"Jika dia hanya sederhana. Jika Indonesia telah menjadi demokratis dan menjunjung hak asasi manusia, dia akan kembali ke kampung halamannya," kata Suciwati.
Dua kondisi yang diajukan Munir, menurut Suciwati, sulit tercapai dalam waktu dekat.
Sebelum Munir meninggal, Indonesia sedang mengalami masa peralihan dari pemerintahan Orde Baru. Gejolak dan tantangan masih terus muncul, termasuk upaya mencari keadilan bagi para korban pelanggaran HAM yang serius.
Suciwati memandang syarat 'pensiun' yang diungkapkan Munir sebagai sebuah pernyataan lembut yang menunjukkan bahwa dia tidak akan mengundurkan diri dari medan pertarungan yang telah membawanya berjuang sepanjang hidupnya.
Suciwati tidak menganggap Munir bersikap keras kepala. Ia lebih melihat suaminya sebagai sosok yang menghargai nilai dan idealisme.
Bahkan ketika banyak orang meragukan pilihan hidupnya yang sering menghadapi penghalang besar, Munir tetap setia berada di jalur ini.
Mengapa harus menjadi aktivis jika kesempatan untuk hidup nyaman tersedia dengan luas?
Berapa kali Munir ditawari posisi di pemerintahan, kata Suciwati. Munir, tentu saja, menolaknya.
Bantuan atau dana bantuan dari organisasi donor internasional seringkali hanya berupa formalitas.
Pemberian sebuah rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sama saja: tidak diambil oleh Munir.
Suatu hari, Munir menerima penghargaan dari sebuah organisasi asing karena perjuangannya dalam dunia aktivisme.
Penghargaan tersebut diiringi dengan jumlah uang yang, menurut ingatan Suciwati, mencapai ratusan juta rupiah—yang tergolong besar pada masa itu.
"Uang tersebut justru diberikan untuk operasional KontraS, lembaga yang baru saja ia dirikan, dibandingkan keluarganya," kata Suciwati.
Suciwati tidak pernah mengeluh. Ia menyatakan berbagai penolakan Munir terhadap materi semakin memperjelas posisinya; bahwa Munir bukan seseorang yang mudah dikendalikan melalui harta.
Tapi, saya juga kaget sebagai seorang istri, ya sudah,lah," terang Suciwati, tertawa.
"Saya karena optimis, karena dia orang yang rajin bekerja, dan kami bangga dengan hasil usaha sendiri, jadi [tawaran] hadiah itu biasa saja," tambahnya.
Maka, inilah yang dibuktikan olehnya [Munir], bahwa dia tidakkemaruk [rakus] dengan nilai-nilai duniawi."
Ikan koi di Kota Batu
Mufid Thalib masih gesit bergerak meskipun usianya sudah memasuki usia tujuh puluhan. Ia baru saja tiba dari pasar ketika saya mengunjungi rumahnya di Kota Batu, Jawa Timur. Setiap hari, Mufid biasanya menghabiskan waktunya untuk berdagang, selain bermain bersama cucu-cucunya.
Minuman teh panas yang dituangkan ke dalam cangkir berwarna hijau muda memisahkan kami. Mufid menghabiskan teh itu sebelum akhirnya bercerita tentang adiknya, Munir Said Thalib.
Pertemuan terakhir dengan adiknya terjadi sekitar satu atau dua minggu sebelum ia pergi ke Belanda, Mufid berusaha mengingat. Saat itu, Mufid membantu Munir membersihkan isi rumah di Kota Batu yang akan ditinggalkan.
Saat proses pindah rumah berlangsung, keduanya berbicara mengenai ayam dan ikan koi milik Munir. Adiknya sedikit cemas tentang masa depan hewan peliharaannya itu.
"Kami kalau ngobrolyang biasa saja. Dia [Munir] tidak pernah menyampaikan sesuatu yang berat jika kami [saudara-saudaranya] tidak bertanya," Mufid menjelaskan.
Lalu saya mendengar berita bahwa Munir telah meninggal.
Berita kematian Munir menggoncang jiwa Mufid—demikian pula saudara-saudaranya yang lain. Rasa kehilangan menghantam pikiran keluarga Munir.
Sebagai anggota keluarga, Munir memiliki hubungan yang dekat dengan saudara kandungnya yang berjumlah tujuh orang. Munir adalah anak keenam dari pasangan pedagang bernama Said Thalib dan Jamilah Umar Thalib.
Said Thalib meninggal dunia ketika anak-anaknya masih sangat muda. Kehilangan ayah memaksa anggota keluarga Thalib bekerja keras untuk mengatasi berbagai kebutuhan. Tugas sebagai kepala keluarga kemudian diambil alih oleh Mufid dan saudara tertuanya, Rasyid.
Mufid menceritakan bahwa Munir sangat aktif membantu keluarga yang sedang mengalami kesulitan finansial. Misalnya, Munir ikut berdagang sepatu bersama saudara-saudaranya, termasuk Mufid. Di sisi lain, Munir tidak pernah meminta sesuatu yang akan menyulitkan keluarganya.
Kondisi yang disebut Mufid sebagai "penuh keterbatasan" ternyata tidak mengurangi kebahagiaan yang ada dalam diri Munir. Mufid mengingat bahwa ketika Munir masih kecil, ia selalu ceria dan pandai berinteraksi dengan orang lain. Ia memiliki banyak teman.
"Dan saya sendiri tidak tahu bagaimana dia, keahliannya dalam berinteraksi dengan berbagai kalangan itu berasal dari mana. Yang jelas, dia bisa bersosialisasi dengan baik kepada orang lain," jelas Mufid.
Selain anak yang ceria dan gampang beradaptasi, Mufid menganggap adiknya selalu memiliki semangat yang kuat.
Meskipun kondisi keluarganya dianggap kurang memadai dari segi finansial, Munir memiliki semangat besar untuk melanjutkan pendidikannya hingga jenjang paling tinggi.
Munir menunjukkan komitmennya dengan menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Ia meraih gelar sarjana hukum.
Pemilihan Mufid untuk mengambil studi di bidang hukum dianggap sebagai hal yang istimewa.
Di kalangan keluarga Thalib, Mufid memberitahu saya, ada sosok yang sering menjadi panutan. Namanya Mustahar Umar Thalib, seorang dokter di Banyuwangi yang memiliki nama baik di tengah masyarakat, salah satunya melalui pendirian rumah sakit.
Kepribadian Mustahar "mempengaruhi saudara-saudaraku," kata Mufid. Muncul keinginan untuk "keluar dari kesulitan hidup" setelah melihat bagaimana Mustahar meraih kesuksesan dalam menjalani profesi dokter.
Kakak dan adik Munir, pada akhirnya, mengikuti jejak Mustahar. Keduanya menjadi dokter. Berbeda dengan keduanya, Munir tidak tertarik.
Ia berlari ke [hukum] studi. Ini adalah pilihan yang telah, menurut kami pada saat itu, menyimpang," kata Mufid diikuti tawa.
Namun, keluarga tidak melarang Munir untuk mengambil studi hukum, termasuk saat Munir menerapkan ilmu yang ia pelajari dalam kehidupan nyata melalui aktivisme.
"Jelas [terdapat] perasaan bimbang yang tidak bisa kami tolak keberadaannya," Mufid mengakui.
Tetapi, kami juga menyadari bahwa apa yang dilakukan Munir dan kami sebagai keluarga tidak memiliki pilihan lain selain mendukung dan berdoa.
Mufid mengungkapkan secara pribadi "sangat terkejut" dengan keputusan yang diambil oleh Munir. Meskipun dia sendiri sudah lama memperhatikan "tanda-tanda" kepedulian Munir terhadap sesama.
Saat Munir duduk di bangku SMP, jasad tanpa identitas ditemukan dekat rumah keluarga besar mereka di Kota Batu. Masyarakat mengatakan tubuh tersebut adalah seseorang yang mengalami gangguan jiwa. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi merawatnya, kenang Mufid.
Namun, Munir tidak demikian. Ia pergi ke kantor polisi terdekat dan melaporkan temuan mayat di pusat kota.
"Saya juga tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan hal itu [pergi ke kantor polisi]," jawab Mufid.
Jelas, dari sana, saya kemudian memikirkan bahwa mungkin sejak dulu sudah ada [kepeduliannya].
Membicarakan 'akar' dari segala hal yang melekat pada Munir, termasuk keberaniannya, sebenarnya, Muhfid menambahkan, berkaitan dengan keberadaan ibunya, Jamilah.
Muhfid mengingat betapa ibunya "telah memberikan ruang yang cukup kepada Munir untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan." Bukan hanya kepada Munir, tetapi anak-anak Jamilah yang lain juga mengalami hal yang sama. Menurut Muhfid, Jamilah tidak pernah memaksakan jalan hidup anak-anaknya.
Di tengah lorong-lorong panjang yang membatasi realitas keluarga Thalib pada masa itu, Jamilah tetap "kuat dan demokratis," tambah Muhfid.
"Itu mungkin salah satu tokoh yang diambil oleh Munir," kata Muhfid.
Keyakinan ibunya menjadi seperti panduan untuk menghadapi berbagai tantangan yang turut memengaruhi keluarga besar mereka. Jika ada tuduhan—yang berujung pada serangan—terhadap aktivismenya, Muhfid menolak untuk percaya perkataan orang lain selain Munir.
"Dulu terkadang dia dianggap cenderung ke [haluan] Kiri. Ada kalanya [dikatakan] cenderung ke [haluan] Kanan. Hal-hal semacam itu yang kami [minta ke Munir] klarifikasi," ujar Muhfid.
Lebih dari dua puluh tahun setelah kematian Munir, Muhfid mengatakan terjadi perubahan pandangan mengenai bagaimana keluarga besar mereka memaknai kasus yang berkaitan dengan Munir.
Mereka memutuskan untuk membatasi diri, kata Muhfid menekankan.
Menurut Muhfid, awalnya kehilangan Munir adalah sesuatu yang sangat berat. Kini, mereka telah membuka halaman baru, memberikan ruang kosong yang akan diisi dengan ketabahan hati.
"Sekarang kami kembalikan kepada masyarakat karena Munir telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat. Sehingga masyarakat dapat menilai bagaimana harus melanjutkan atau memahami perjuangan Munir di masa lalu," kata Muhfid.
Kami sendiri merasa sudah cukup. Kami telah kehilangan seorang adik, seseorang yang menjadi bagian dari keluarga, dan kami berusaha menerima dengan ikhlas.
Rasa takut yang menghantui di Jalan Diponegoro
Pada malam ketika berita mengenai kematian Munir sampai kepada Usman Hamid, tidak lama setelahnya ibunya menghubunginya.
Satu hal yang terus terlintas dalam pikiran Usman: ia pasti diharuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).
Karena setiap tahun, ibu saya memintakuresign dari KontraS," ucap Usman.
Alasannya sederhana: menjadi aktivis di masa penurunan Soeharto terlalu berbahaya. Mereka yang telah hilang belum jelas nasibnya, dan Ibu Usman tidak ingin kekecewaan itu menimpa Usman.
Dan ibu saya pernah kehilangan kakak saya, akibat kecelakaan. Dia sepertienggak"ingin kehilangan anak laki-laki lagi," tambah Usman.
Usman telah mempersiapkan diri untuk menyetujui permintaan pengunduran diri dari ibunya. Tidak ada pilihan lain selain itu.
Ternyata Usman salah.
Tidak lama setelah Munir meninggal, ibunya justru mengatakan:
Sekarang kamu bawa Ibu ke rumah Munir."
Kemudian kamu carilah siapa yang membunuhnya."
Pada bulan Mei 1998, empat mahasiswa Universitas Trisakti meninggal dunia akibat tembakan aparat. Mereka tewas saat terjadi demonstrasi menentang pemerintahan Orde Baru. Usman bergabung dengan kelompok mahasiswa yang berupaya menyelidiki tindakan represif dari petugas keamanan.
Hari-hari Usman diisi dengan berkunjung ke sebuah bangunan tua yang terletak di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, yang menjadi pusat beberapa organisasi nonpemerintah yang berfokus pada isu hukum: KontraS, PBHI, dan YLBHI.
"Itulah tempat pertama kali saya berinteraksi dengan Munir," kenang Usman.
Pertemuan itu memberikan kesan yang cukup mendalam kepada Usman.
Munir, berdasarkan kesaksian Usman, "sangat jelas dalam menyampaikan sesuatu." Pendapatnya mengkritik situasi politik setelah jatuhnya Soeharto, menurut Usman, "mampu melihat kondisi dengan tajam."
Selama bulan Juli hingga Agustus 1998, para mahasiswa masih melakukan demonstrasi meskipun Soeharto telah mundur dari jabatannya. Mahasiswa menganggap pengganti Soeharto, yaitu BJ Habibie, memiliki kesamaan dengan Orde Baru, sehingga menimbulkan rasa kecewa.
Di lapangan, suara protes mahasiswa berhadapan dengan massa dari kelompok warga sipil yang dikerahkan dalam jumlah yang cukup besar.
"Muinir mampu menjelaskan dengan sangat baik bahwa itu adalah skenario militer untuk menempatkan pihaknya atau kelompok-kelompok perwakilannya dalam bentuk paramiliter atau milisi-milisi guna menghadapi mahasiswa," ujar Usman.
Karena, menurut Munir, mereka [militer] mulai kehilangan pengaruh tertentu.
Kecerdasan Munir tidak membuatnya merasa lebih tinggi dari orang lain.
Munir, Usman mengatakan, tidak pernah meremehkan kemampuan seseorang. Yang dilihat oleh Munir, pertama-tama adalah keinginan.
"Maka, bahkan seorang sopir LBH [Lembaga Bantuan Hukum] yang mendampingi Munir dianggap andalan karena memiliki keberanian, misalnya, dalam mengevakuasi mahasiswa yang diculik atau aktivis yang diburu oleh aparat," lanjut Usman.
Masa Reformasi 1998 dianggap oleh Usman sangat melelahkan. Bila hal itu terjadi, Usman cenderung mengambil jeda sebentar untuk mengembalikan kejernihan pikiran. Tempat yang dipilih berada di sekitar Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat.
Di sana, bersama Munir, Usman menikmati hidangan masakan Padang, diikuti dengan agenda obrolan santai.
Pada kesempatan lain, Usman dan Munir sering kali berkeliling Jakarta tanpa tujuan pasti. Saat berkendara, jika mereka menemui warung makan yang menarik, mereka berhenti untuk makan. Kegiatan kuliner ini selalu diiringi dengan diskusi dan pertukaran pendapat.
Bersama Munir, malam terasa seperti mengalir tanpa henti. Hal ini karena Usman sering diminta untuk merangkum isi percakapan dengan Munir, yang biasanya berlangsung selama berjam-jam, dalam bentuk tulisan.
Yang nulis siapa?
Kamu, lah.
Wah, tidak tidur, ya, ini.
Pemuda tidak perlu tidur.
Usman hanya bisa tertawa setiap kali kenangan itu muncul dalam kesadarannya.
Awalnya tidak saling mengenal, hubungan Usman dan Munir menjadi sangat dekat. Usman melihatnya seperti saudara laki-laki dan perempuan.
Tidak lama setelah lulus dari Universitas Trisakti, Usman sedikit bingung mengenai arah masa depannya. Munir menawarkannya untuk bekerja di KontraS yang baru saja didirikan.
Baik, nanti saya kirimkan surat lamaran..
Astaga, gunakan lamaran apa saja. Tidak perlu. Langsung masuk saja, kemudian bekerja..
Sisi humor yang demikian bukanlah hal langka yang sulit ditemukan selama Usman mengenal Munir.
Pada tahun 2002, kantor KontraS yang berada di Jakarta Pusat diserang oleh sekelompok orang yang berpakaian seperti preman.
Sebelum kejadian tersebut, KontraS sedang melakukan penyelidikan terkait dugaan keterlibatan seorang jenderal di dalam ABRI—sekarang TNI—dalam kasus penembakan mahasiswa Universitas Trisakti.
Beberapa keluarga korban akhirnya memutuskan untuk mengadakan aksi demonstrasi di rumah kediaman Wiranto, yang menjabat sebagai Panglima ABRI saat kekerasan terjadi (1998-1999).
"Maka, menimbulkan sesuatu yang penuh ketegangan," kata Usman.
Bukan hanya demonstrasi, KontraS rencananya akan memanggil Wiranto beserta perwira tinggi lainnya.
Kira-kira seminggu setelah demonstrasi dan rencana pemanggilan tersebut, massa yang diduga terdiri dari preman mengelilingi KontraS. Munir meminta Usman segera menyelamatkan dokumen-dokumen penting.
Masih belum selesai Usman mengatur dokumen, ia mendengar suara kaca yang pecah dengan jelas.
Pyarrr.
Bukan hanya satu, tetapi seluruh kaca yang ada di dalam bangunan.
Pyarrr. Pyarrr. Pyarrr.
Massa kemudian memasuki bagian dalam kantor KontraS. Komputer dirusak. Kursi dan meja dibuang. Suasana sangatchaos.
Anggota KontraS berlari kacau mencari perlindungan, termasuk Usman dan Munir yang berusaha disembunyikan di rumah petugas kebersihan kantor yang berada di belakang gedung.
Mereka bersaing dengan waktu karena teriakan kerumunan yang mencari—secara khusus—keduanya sudah tidak bisa dihentikan.
Mana Usman?!
Mana Munir?!
Komunis!
Bakar! Bakar!
Saat itu, massa sempat membawa Munir ke tengah ruangan namun kemudian melepaskannya. Setelah seluruh KontraS rusak, massa berhenti dan bubar.
Kondisi mulai membaik. Usman menyampaikan isi pikirannya bahwa dia, atau Munir, mungkin saja meninggal dunia akibat amukan massa.
Saat sore hari, seorang teknisi datang ke kantor KontraS. Ia membawa sebuah komputer yang baru.
Munir mendekati orang tersebut. Pandangannya mengamati benda yang beberapa jam sebelumnya hancur dan nyaris tidak tersisa. Sebuah kalimat tiba-tiba keluar dari mulutnya.
Bisa juga, tampaknya ini jika kita diserang. Setiap minggu komputer baru.
"Kami yang berada di sana tertawa mendengarnya," tutup Usman.
Ia selalu menjadi bahan candaan.
Mewariskan jiwa yang luas dan keberanian yang mendukung
Pada suatu hari, putra kedua Munir dan Suciwati meledakkan kemarahan ketika melihat Pollycarpus Priyanto, orang yang memasukkan arsenik ke dalam tubuh ayahnya, muncul di layar televisi. Suara tangisan keras segera terdengar.
Suciwati tidak berupaya menghibur anaknya. Ia membiarkan putranya terjebak dalam perasaan tersebut.
Setelah menangis, Suciwati memeluknya dengan hangat, mengusap air mata yang mulai kering di wajah anaknya.
"Lalu aku bertanya, bagaimana rasanya menjadi marah?" kata Suciwati.
"Marah itu melelahkan."
Suciwati menyampaikan kepada putrinya bahwa yang seharusnya diperhatikan bukanlah apa yang terjadi pada Munir, melainkan apa yang telah dilakukan oleh Munir.
Benih-benih kebaikan yang terus-menerus disebarkan oleh Munir di lahan yang kering adalah aliran air yang deras; memberikan harapan bagi mereka yang hancur akibat ketidakadilan.
"Lalu bekerja dengan penuh kasih, itulah yang memberi semangat, dan hal itu menjadi abadi," Suciwati mengulangi kalimat yang pernah diucapkan kepada anaknya.
Jika jahat bisa bertahan selamanya, begitu pula dengan kebaikan. Tapi, pilihanmu adalah memilih yang mana?
Pertama kali mendengar berita kematian Munir, Suciwati merasa langit tiba-tiba gelap dan menggantung di atas kepalanya. Perjuangan untuk menemukan keadilan, menurut Suciwati, akan selalu menghadapi dinding tebal yang menyebabkan kebuntuan dan keterkurungannya.
Awalnya, Suciwati menambahkan, lembaga negara yang seharusnya melindungi warganya justru digunakan sebagai alat untuk membunuh.
Pada saat itu, Suciwati sudah memahami bagaimana alur ceritanya akan berjalan.
"Apa maksudnya? Mereka akan melakukan segala hal untuk menyembunyikan kesalahan mereka," tegasnya.
Apakah hal itu kemudian membuat saya terdiam?
Pertanyaan tersebut dijawab sendiri oleh Suciwati. Lebih dari 20 tahun ia selalu berada di barisan terdepan dalam menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas kematian suaminya.
Dari forum resmi hingga Aksi Kamisan, suara Suciwati tetap sama: carilah siapa di balik kematian Munir.
Mahkamah telah menetapkan tersangka terkait kematian Munir. Namun, Suciwati merasa hal itu belum mengungkap sepenuhnya kotak tragedi yang melibatkan Munir.
"Ini tentang bagaimana mendorong kebenaran, bagaimana mengatur lembaga negara agar dapat digunakan secara tepat, yaitu melindungi warga negaranya, bagi masyarakat sipilnya," jelas Suciwati.
Seringkali Munir dihancurkan melalui label musuh negara dan reputasinya dirusak dengan berbagai cerita yang merugikannya—mulai dari agama hingga ideologi.
Segala upaya, menurut Suciwati, berakhir kegagalan, dan akhirnya mengambil tindakan terakhir: pembunuhan.
"Mereka hanya terus-menerus menciptakan gangguan agar kita, masyarakat umum, percaya pada perkataan mereka, pada omongan kosong mereka, karena mereka tidak memiliki bukti yang kuat untuk menyalahkan Munir," tambah Suciwati.
Suciwati menolak dikatakan membenci negara, serta menyatakan bahwa ia tidak pernah memiliki rasa benci. Selama ini, yang menjadi dasar Suciwati bertahan adalah rasa cinta: cinta terhadap Munir dan, yang paling utama, kemanusiaan.
"Apa yang saya lakukan adalah ketika saya tidak ingin ada orang yang dibunuh seperti suami saya, dan pelakunya bebas," tegasnya.
Kematian Munir, menurut Suciwati, bukanlah kematian biasa. Terdapat peran pemerintah dalam kejadian tersebut sehingga pantas dimasukkan dalam kategori pelanggaran serius. Secara singkat, negara tidak boleh mengabaikan kasus yang menimpa Munir.
Oleh karena itu, Suciwati tidak akan berhenti dalam perjalanan untuk mewujudkan apa yang dulu Munir perjuangkan selama hidupnya: keadilan.
Hingga tujuannya benar-benar tercapai, ia hanya memiliki satu pertanyaan yang perlu dijawab.
Apakah kamu membunuh suamiku?

Ini merupakan tulisan pertama dari tiga artikel yang membahas tentang kehidupan dan kematian Munir.
- 21 tahun kematian Munir – Mengapa perkara ini sulit diungkap?
- Munir dibunuh dua puluh tahun yang lalu, putrinya menuntut janji pemerintah – 'Berikan keadilan untuk ayah saya'
- 17 tahun sejak pembunuhan Munir, tetapi 'pelaku intelektual' masih belum diketahui
- Tujuh tahun kasus pembunuhan aktivis HAM Munir
- Sepuluh tahun misteri kematian Munir
- Pollycarpus dibebaskan dan menyangkal terlibat dalam pembunuhan Munir, keluarga tetap meminta keadilan.
- Pernyataan keluarga korban pembantaian massal 1965-1966 di Bali – 'Jika ayah saya anggota PKI, tetap saja dia tidak pantas dibunuh'
- Penghapusan nama Soeharto dari TAP MPR dan isu gelar pahlawan nasional, para korban pelanggaran HAM berat mengatakan: 'Itu merupakan penghinaan. Dia bukan pahlawan tetapi seorang penjahat'
- Laporan Human Rights Watch: Diskriminasi dan pelanggaran rasial terhadap warga Papua 'lebih sering dan jelas terlihat' selama pemerintahan Jokowi
- Keluarga korban penculikan pada tahun 97-98 mengklaim telah menerima 'uang sebesar Rp1 miliar' dari pejabat Gerindra - 'Upaya terstruktur untuk menutupi tanggung jawab Prabowo'
- Perang di Papua, ribuan penduduk Paniai melarikan diri - 'Roh Kudus, berkatilah kami agar dapat selamat'
- Cerita warga keturunan Tionghoa yang tinggal di luar negeri setelah kerusuhan Mei 1998 serta mereka yang memilih kembali ke Indonesia - 'Semoga pemerintah tidak menghilangkan sejarah'
- Kekacauan Mei 1998: '26 tahun isu kekerasan seksual terhadap perempuan Indonesia diabaikan'
- Menelusuri kasus penganiayaan warga sipil oleh anggota TNI di Puncak, Papua – 'Kami bebas melakukan apa saja yang kami inginkan'
- Para peneliti dan aktivis HAM mengkritik kenaikan pangkat khusus yang diterima Prabowo Subianto - 'Ini tidak layak'