Search Suggest

Cerita Natasha Berhasil Masuk UI Jalur SNBP Setelah Berkali-kali Gagal

Di tengah ajakan #KaburAjaDulu, seorang mahasiswa Gen Z asal Depok justru memilih menapak jalan yang berbeda.

Alih-alih melanjutkan kuliah di luar negeri, ia memilih berjuang masuk kampus terbaik di Indonesia, yaitu Universitas Indonesia (UI), untuk mengejar pendidikan dan mewujudkan cita-citanya menjadi ahli kebijakan publik yang berfokus pada masyarakat. Meskipun, usahanya untuk masuk UI berkali-kali gagal.

Dia adalah Natasha Fazilla Putri Nugroho (20) mahasiswa semester 6 Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Natasha mengungkapkan bahwa keputusannya untuk terjun ke ranah kebijakan publik timbul karena ia sendiri adalah bagian dari kelas masyarakat yang mudah sekali terombang-ambing oleh kebijakan publik yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Kesedihan itu dimulai dari tempat tinggalnya sendiri di Depok, yang menurut Natasha dihiasi kebijakan-kebijakan "aneh". Banyak aturan yang dinilainya tidak menyentuh akar, solusi yang diberikan lebih seperti obat pemasan daripada jawaban.

“Waktu itu pernah ada kebijakan membaca Al-Qur'an saat pandemi Covid-19. Bagi saya, kebijakan itu terasa tidak masuk akal. Seharusnya yang menjadi fokus adalah tracing, vaksinasi, dan langkah-langkah medis lainnya,” ceritanya dengan terkekeh, tetapi tersirat rasa kesal.

“Terus, ada juga kebijakan lain, seperti walikota yang membuat lagu untuk diputar di lampu lalu lintas di Jalan Margonda. Katanya, tujuannya agar pengendara tidak stres saat macet, padahal yang seharusnya diselesaikan adalah penyebab kemacetan itu sendiri. Dari situ, aku merasa bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.” lanjutnya.

Gagal lulus ujian hingga tiga kali

Perjuangan Natasha untuk menjadi mahasiswa Universitas Indonesia tidaklah mudah. Setelah gagal masuk pada tahun 2021, ia memutuskan untuk mengambil gap year, sebuah pilihan yang didukung oleh teman-temannya, terutama dari lingkungan SMA.

“Teman-teman SMA saya khususnya mendukung pilihan saya untuk mengambil tahun libur,” ujarnya.

Pada tahun 2021, Natasha lolos tahap seleksi untuk jalur undangan, yang pada saat itu dikenal sebagai SNMPTN, sekarang dikenal sebagai SNBP. Dengan yakin, ia memilih Ilmu Politik UI sebagai pilihan utamanya. Namun, keputusannya itu mendapat penolakan dari guru Bimbingan Konseling (BK) di sekolahnya.

“SMA aku itu nggak punya sejarahnya ada yang lulus UI dari jalur undangan. Jadi, memilih UI itu seperti bunuh diri,” kenangnya.

Meskipun begitu, Natasha tetap teguh pada pilihan tersebut. Ia menyadari bahwa ada universitas lain dengan jurusan serupa yang mungkin bisa menerima dirinya, tetapi ada konsekuensi yang harus dipertimbangkan. Jika ia diterima di universitas lain lalu menolak tawaran tersebut karena masih ingin mencoba UI, ada kemungkinan sekolahnya akan masuk daftar hitam.

"Aku tidak ingin menutup peluang adik-adik kelas kalau aku sampai menolak universitas lain," katanya.

Sayangnya, hasil seleksi tidak berpihak padanya. Dia tidak lolos ke UI baik untuk pilihan pertama, Ilmu Hukum, maupun pilihan kedua, Ilmu Politik. Bahkan di SIMAK UI, Natasha mencoba berbagai jurusan, termasuk Hukum dan Politik, tetapi tetap gagal.

Tapi, bukannya menyerah, Natasha malah semakin yakin pada keputusannya. Baginya, hanya ada satu tujuan, yaitu menjadi mahasiswa UI. Baginya, memilih universitas lain akan seperti mengkhianati mimpi dan menekan ambisinya sendiri.

"Aku takut kalau aku memilih tempat lain, aku bakal menyesal seumur hidup dan terus membandingkan diri dengan anak-anak UI. Jadi seperti ya sudah lah, besar atau tidak ada saat itu aku berpikirnya." ujarnya.

Merasakan tekanan dan kehilangan semangat

Selama masa istirahat atau gap year, Natasha menghabiskan waktunya untuk belajar sambil sesekali mengambil pekerjaan sampingan, seperti menjadi perencana acara pernikahan dan membantu bisnis donat milik bibinya.

Natasha memprioritaskan waktu untuk belajar dengan target minimal 6 jam per hari, tetapi seringkali target tersebut tidak tercapai. Bahkan kadang ia tidak belajar sama sekali karena merasa terbebani oleh tekanan.

"Di keluarga besarku, tidak ada yang pernah kuliah di UI. Jadi bayangkan saja aku yang harus liburan selama satu tahun, dan semua orang di keluarga besar tahu bahwa aku ingin masuk UI, tekanannya itu besar. Pasti mereka punya harapan besar buat aku, harapan yang juga aku miliki untuk diri aku," ujarnya.

Meski menyukai proses pembelajaran, Natasha mengakui sering menunda-nunda karena merasa kelelahan.

"Saya tidak ingin melakukannya. Seperti yang saya tahu bahwa saya harus pintar sekali, saya tahu saya harus memahami banyak hal dalam waktu yang singkat," kata Natasha.

Rutinitas belajarnya sangat tidak konsisten. Kadang ia bisa belajar selama 12 jam, tetapi kadang tidak belajar sama sekali. Saat semangatnya menurun, ia malah terjebak dalam berbagai konten di platform seperti TikTok, Instagram, atau Twitter.

Di tengah tekanan dan perjuangannya melawan kemalasan, Natasha menemukan dukungan melalui salah satu platform belajar online terkemuka di Indonesia. Dengan demikian, pengajar di platform tersebut yang banyak berasal dari UI menjadi sumber inspirasi bagi Natasha.

“Saya melihat, oh lulusan UI itu seperti ini. Mereka adalah tipe orang yang saya ingin dijadikan teladan,” katanya.

Meski demikian, perjuangan Natasha tidak semudah-mudahan. Masalah disiplin dan penundaan masih menjadi tantangan besar. Masalah yang dimilikinya ini ia coba selesaikan dengan menyusun strategi baru.

Dia memutuskan untuk fokus menemukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagian tertentu daripada mencoba memahami seluruh materi yang begitu luas dan menghabiskan banyak waktu.

"Akhirnya, yang membuat aku diterima adalah karena aku menguasai materi yang sering keluar dalam ujian. Misalnya, di geografi, soal tentang batuan, tanah, dan air sering muncul. Sementara di sosiologi, ada beberapa topik tertentu yang juga sering muncul. Jadi, aku benar-benar fokus pada bagian yang paling sering diujikan," kata Natasha.

Perubahan bagi Natasha terjadi ketika ia menyadari bahwa belajar bukanlah merupakan beban, melainkan proses yang menyenangkan. Setelah perjuangan yang panjang, akhirnya Natasha berhasil diterima di Fakultas Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan kebijakan yang baik

Natasha menjelaskan alasannya memilih bidang kebijakan publik karena kepeduliannya terhadap masyarakat. Ia juga yakin untuk memilih bidang tersebut karena memiliki integritas tinggi. Bahkan, Natasha tidak pernah menggunakan cara-cara tidak terpuji untuk mendapatkan nilai yang baik di sekolah.

"Aku tahu bahwa aku bukan seseorang yang istimewa, aku bukan dari keluarga pejabat atau jenderal, tapi ya aku merasa aku punya kepedulian untuk masyarakat luas. Selain itu, hal yang sederhana seperti menontek saja, aku tidak pernah melakukannya. Sejak sekolah menengah pertama, karena teman-teman SMP waktu itu pintar-pintar, jadi aku juga terdorong untuk belajar sendiri." jelasnya.

Natasha merasa telah memiliki modal utama untuk memahami kebijakan publik: perasaan peduli. Ia yakin bahwa dengan berada di lingkungan yang mendorongnya untuk memahami lebih dalam tentang politik dan kebijakan publik, ia bisa berkontribusi secara nyata.

Ia menyadari bahwa dunia politik dan kebijakan publik jauh dari kata ideal. Namun, menurutnya, justru di situlah letak tantangannya. Ia percaya bahwa memahami segala ketidaksempurnaan dalam sistem adalah langkah awal mencari solusi yang lebih baik.

“Sebenarnya kita harus tahu apa yang tidak tepat, sehingga kita bisa menemukan solusi yang tepat,” lanjutnya.

Bagi Natasha, memahami hak sebagai warga negara adalah hal yang paling dasar. Ia yakin bahwa negara seharusnya memberikan kemakmuran kepada warganya, terutama karena setiap warga negara sudah menjalankan kewajibannya.

Nilai-nilai Pancasila dan pembukaan UUD 1945 yang sering diperdengarkan dalam upacara itu, memperkuat keyakinannya bahwa keadilan sosial seharusnya bukan hanya menjadi wacana, melainkan sesuatu yang sebenarnya diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.

“Tidak salah tentu saja jika kita ingin adil sosial bagi semua masyarakat Indonesia. Aku percaya bahwa kita semua berhak mendapatkan lebih baik. Aku, kita, semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan kebijakan terbaik,” katanya.

Setelah merasa percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki di UI, Natasha kemudian mencari organisasi yang sesuai dengan minatnya di bidang kebijakan publik dan riset.

Organisasi pertama yang diikuti Natasha adalah Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Chapter UI, organisasi yang dibentuk oleh Dino Patti Djalal, mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat. Karena masih sebagai mahasiswa baru, Natasha melakukan magang selama 6 bulan di sana sebelum menjadi staf tetap di divisi analisis dan riset.

Dari FPCI, Natasha beralih ke Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HMIP) UI sebagai Kepala Departemen Keilmuan. Alasannya karena ia lebih tertarik pada kebijakan publik domestik dibandingkan dengan kebijakan luar negeri. Di HMIP, dia fokus pada akademik mahasiswa, mengadakan mentoring dengan alumni, belajar bersama, dan mengelola perpustakaan digital.

Selain itu, Natasha juga aktif dalam berbagai kegiatan di luar organisasi, seperti menyelenggarakan lomba seni politik untuk siswa SMA, terlibat dalam acara Model Indonesian Parliament di DPR, dan menjadi relawan di Gerakan UI Mengajar. Pengalamannya mengajar selama sebulan di Blora, Jawa Tengah, merupakan pengalaman yang sangat berharga baginya.

Saya juga ingin Anda tahu bahwa saya percaya bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai kesu

Cita-cita Natasha adalah menjadi peneliti sosial, peneliti politik, analis, atau konsultan yang bekerja berdasarkan data dan bukti untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun pernah ingin menjadi dosen, ia menyadari bahwa kondisi akademik di Indonesia belum memungkinkan, terutama dari aspek keberlangsungan.

"Dosen tidak dibayar dengan gaji yang sesuai, apalagi jika mereka bekerja di Jakarta atau di UI," katanya.

Natasha memiliki pesan khusus untuk para calon mahasiswa yang sedang berjuang mencari tempat di perguruan tinggi. Menurutnya, disiplin adalah hal yang sangat penting. Selain itu, menurut Natasha, hal yang sering menghalangi banyak orang bukanlah kurangnya kemampuan mencapai tujuan, melainkan kesulitan untuk memulai.

"Tujuan pertama kamu bukanlah untuk menang, tetapi tujuan pertama kamu adalah untuk memulai," jelasnya.

Ia memahami betul perasaan para pejuang kampus impian, terutama mereka yang berasal dari SMA yang tidak populer. Ia menjelaskan bahwa murid yang berjuang dari SMA yang kurang terkemuka akan merasa mereka berjuang sendiri.

Namun, ia mengingatkan bahwa sudah banyak juga mahasiswa yang melewati hal tersebut dan berhasil. Natasha percaya bahwa kemajuan tidak selalu harus sesuai dengan target awal.

"Meskipun mungkin kamu punya standar atau jadwal 6 jam sehari, tapi kamu hanya bisa 4 jam, bahkan 2 jam, atau hanya 10 menit, itu tetaplah kemajuan," kata Natasha.

Akhirnya, Natasha menekankan bahwa ketakutan sering menjadi penyebab utama penundaan. Menunda-nunda bukan semata karena malas, melainkan sering kali merupakan strategi untuk melindungi diri dari rasa takut akan gagal atau tidak sempurna.

Namun, ia menekankan bahwa cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan terus maju, sekecil apa pun langkah yang diambil. Baginya, tidak ada cara lain selain melakukannya.

"Jadi, yang harus dilakukan adalah untuk melakukan saja," katanya.

Dengan prinsip itu, Natasha ingin terus mengingatkan dirinya sendiri dan orang lain bahwa yang paling penting adalah memulai. Langkah pertama, besar atau kecil, selalu berarti.

Posting Komentar