Search Suggest

Postingan

5 Destinasi Sejarah Klaten, Candi Plaosan dan Makam Sunan Pandanaran II Tembayat

Ringkasan Berita:
  • Kabupaten Klaten menyimpan berbagai destinasi wisata sejarah yang berasal dari masa Hindu-Buddha hingga perkembangan agama Islam di Jawa Tengah.
  • Dimulai dari Candi Plaosan Lor, Candi Merak, hingga Makam Sunan Pandanaran II Tembayat yang penuh dengan nilai budaya.
  • Umbul Cokro menambahkan pengalaman wisata sejarah di Klaten dengan nuansa alami, spiritual, dan edukasi.

Klaten, Jawa Tengah, tidak hanya terkenal karena keindahan alamnya, tetapi juga memiliki jejak sejarah serta nilai spiritual yang kaya akan budaya.

Wilayah ini menjadi tempat tinggal berbagai situs penting yang mencatat perjalanan peradaban Hindu-Buddha hingga perkembangan agama Islam di Jawa.

Dimulai dari keindahan Candi Plaosan yang penuh makna toleransi, hingga Makam Sunan Pandanaran II di Tembayat yang menjadi tempat kunjungan spiritual.

Setiap tempat menyimpan kisah sejarah yang tercampur dengan bangunan, kebiasaan, serta pengetahuan tradisional masyarakat setempat.

Lima destinasi wisata sejarah di Klaten yang patut dikunjungi untuk mengikuti jejak peradaban serta memperluas pengetahuan budaya.

1. Candi Plaosan

Candi Plaosan Lor adalah salah satu bangunan candi berarsitektur Buddha yang menarik untuk dikunjungi.

Berada di dekat Candi Prambanan, candi ini terdiri dari dua bagian utama: bagian selatan yang menggambarkan laki-laki dan bagian lainnya yang melambangkan perempuan.

Alamat: Jalan Candi Plaosan, Plaosan Lor, Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57454

Ciri khas: Memiliki desain arsitektur yang berpengaruh dari agama Buddha dengan simbol-simbol yang melambangkan laki-laki dan perempuan, serta memiliki kaitan erat dengan pengaruh Hindu-Buddha di Jawa Tengah.

Bangunan ini merupakan bukti sejarah tentang pengaruh agama Buddha di Klaten dan menjadi tempat kunjungan edukatif bagi masyarakat serta para pelajar.

Tempat wisata bersejarah ini terletak 50 kilometer dari pusat Kota Solo, atau membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit dengan kendaraan bermotor.

2. Candi Merak

Candi Merak merupakan bangunan candi dengan gaya Hindu yang dibuat pada abad kesembilan.

Kawasan candi ini terdiri dari satu bangunan utama dan tiga struktur pendamping.

Mempunyai tiga lantai yang dihiasi ukiran, Candi Merak menjadi saksi perkembangan budaya Hindu di Klaten.

Alamat: Dusun I, Candi, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57483

Ciri khas: Relief dan tata ruang bertingkat yang menarik perhatian pengunjung, serta latar belakangnya yang terkait dengan budaya Hindu klasik.

Bangunan ini sesuai dikunjungi oleh para penggemar sejarah dan arsitektur kuno.

Objek wisata bersejarah ini terletak sejauh 43 kilometer dari pusat Kota Solo, dapat dicapai dalam waktu 1 jam 9 menit menggunakan kendaraan bermotor.

3. Makam Sunan Pandanaran II Tembayat

Makam Sunan Pandanaran II Tembayat adalah tempat wisata religius yang juga memiliki nilai sejarah.

Makam tersebut terletak di puncak bukit dan menjadi lokasi yang sering dikunjungi untuk berziarah.

Sunan Pandanaran merupakan salah satu dari wali yang berperan dalam menyebarkan agama Islam di Klaten, dan ia juga adalah murid dari Sunan Kalijaga.

Lokasi: Mendin, Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

Ciri khas: Penggabungan wisata agama dan sejarah Islam di Klaten, sebagai tempat peringatan terhadap tokoh penyebar agama Islam di Jawa Tengah.

Makam ini menarik bagi pengunjung yang tertarik mengikuti jejak penyebaran agama Islam di Klaten sambil menikmati pemandangan dataran tinggi.

Tempat wisata bersejarah ini terletak 43 kilometer dari pusat Kota Solo, atau memakan waktu sekitar 1 jam 15 menit dengan kendaraan bermotor.

4. Masjid Gala Klaten

Masjid Gala, yang juga dikenal dengan nama Masjid Gholo, adalah salah satu tempat ibadah yang bersejarah di Klaten yang dibangun pada abad ke-16.

Terletak di Desa Paseban, Kecamatan Bayan, masjid ini awalnya berada di puncak Bukit Jabalakat sebelum dipindahkan ke lereng bukit.

Sejarah: Masjid ini pernah dihuni oleh Sunan Bayat, salah satu tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Klaten.

Menurut kisah legenda, Sunan Bayat menciptakan kolam di kaki bukit agar warga mudah mendapatkan air dan melaksanakan ibadah salat Jumat.

Ciri khas: Memiliki makna sejarah yang sangat penting karena berkaitan dengan Wali Sanga dan penyebaran agama Islam di Jawa Tengah, serta menjadi pusat aktivitas keagamaan dan pendidikan pada masa lalu.

Masjid Gala merupakan tempat yang ideal untuk dikunjungi oleh para pengunjung yang tertarik dengan sejarah agama Islam serta desain arsitektur masjid khas tradisional.

Tempat wisata bersejarah ini terletak 42 kilometer dari pusat Kota Solo, atau memakan waktu sekitar 1 jam 13 menit dengan kendaraan bermotor.

5. Umbul Cokro

Umbul Cokro merupakan tempat wisata alam yang juga memiliki makna sejarah dan spiritual yang mendalam.

Dulunya dikenal dengan nama Umbul Ingas karena dikelilingi oleh pohon Ingas, sumber air ini telah digunakan sejak abad ke-9 dan berkembang selama masa pemerintahan Paku Buwono IX dari Kasunanan Surakarta pada abad ke-19.

Ciri khas: Airnya yang bersih berasal dari sumber air di pegunungan, kolam dengan kedalaman rata-rata 80 cm cocok digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Lingkungan sekitarnya dilengkapi dengan gazebo, jalur pendakian ringan, serta area edukasi ekowisata.

Makna Sejarah: Tempat ini dahulu difungsikan sebagai tempat istirahat dan berendam bagi para bangsawan serta spiritualis keraton, sehingga menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Jawa.

Lokasi: Desa Cokro, Klaten, Jawa Tengah

Umbul Cokro kini dikembangkan menjadi tempat wisata ekologis yang memberikan edukasi kepada pengunjung mengenai perlindungan sumber air dan lingkungan, sekaligus menjadi tujuan liburan keluarga yang lengkap.

Tempat wisata bersejarah ini terletak 27 kilometer dari pusat Kota Solo, atau membutuhkan waktu sekitar 50 menit dengan kendaraan bermotor.

(/TribunSolo.com)

Posting Komentar